A. Latar belakang Masalah
Konflik secara etimologis adalah pertentangan faham, pertikaian, persengketaan, perselisihan. Sedangkan Konflik menurut kamus wikepedia merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
Konflik berasal dari kontroversi pertanyaan mendasar mengenai hakikat hukum. Konflik pada dasarnya merupakan produk dari keragaman filsafat hidup dan ideologi politik di dalam peradaban Barat dan juga keragaman pandangan tentang nilai-nilai akhir dan tujuan hidup manusia. Bagi yang ingin mengantisipasi atau mungkin ingin memahami diskusi tentang konflik di dalam yurisprudensi Islam berdasarkan pemahaman konflik di atas maka sangat mungkin akan merasa kecewa, tetapi mungkin pula merasa lega. Karena yurisprudensi Islam secara prinsip tidak mengenal konflik dasar ideologi semacam itu.
Islam berarti penyerahan mutlak kepada Tuhan, dan kehendak itu sendiri yang menentukan nilai akhir dan tujuan hidup manusia. Persoalan mendasar menyangkut hakekat hukum Islam telah selesai dalam arti, pengakuan tidak adanya kompromi bahwa hukum itu didasarkan pada keyakinan keagamaan itu sendiri. Hukum adalah sistem perintah yang diwahyukan Tuhan. Mengingkari prinsip ini berarti menolak keyakinan agama.
Walaupun hukum di dalam Islam merupakan pemberian Tuhan, tetapi manusia yang harus merumuskan dan mempergunakannya. Tuhan yang merencanakan, manusia yang memformulasikan. Antara rencana Tuhan semula dan disposisi manusia pada akhirnya terdapat bidang aktivitas intelektual dan keputusan yang amat luas.
Secara singkat yurisprudensi dalam Islam merupakan proses aktifitas intelektual menyeluruh yang memastikan dan mengungkapkan batasan-batasan kehendak Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam sistem hak-hak dan kewajiban yang dapat diselenggarakan menurut hukum.
Rabu, 09 Oktober 2013
Kamis, 30 Mei 2013
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar PAI Kurikulum 2013
Rumusan Kompetensi Dasar Agama Islam
untuk SMP
Review Akhir 19 Desember
2012
KELAS
VII
|
KOMPETENSI INTI
|
KOMPETENSI
DASAR
|
|
1. Menghargai
dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
.
|
1.1
Membaca Al Qur’an dengan tartil
1.2
Beriman kepada Allah SWT
1.3
Beriman kepada Malaikat-malaikat Allah SWT
1.4
Melaksanakan thaharah
dalam kehidupan sehari-hari
1.5
Melaksanakan shalat wajib berjamaah sebagai
implementasi dari pemahaman rukun Islam
1.6
Melaksanakan shalat Jum’at sebagai implementasi dari
pemahaman Q.S Al Jum’ah ayat 9
1.7
Melaksanakan shalat jama’ qashar ketika bepergian jauh
(musafir) sebagai implementasi dari pemahaman ketaatan beribadah
|
JUARA LOMBA MAPSI SMP TK. KAB. KENDAL 2013
JUARA LOMBA
MAPSI SMP TK. KAB. KENDAL 2013
DI SMPN 1
LIMBANGAN
Minggu, 03 Maret 2013
JENDER DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Kasan As’ari
*
Doktrin Agama
Menurut Komarudin Hidayat ada dua sumber penjaga utama
agama yaitu teks suci dan tradisi. Teks suci sebagai pengejawantahan wahyu
Ilahi telah memberikan pedoman dan aturan-aturan yang jelas tentang peran dan
kedudukan laki-laki dan perempuan dalam menjalani kehidupan, baik pada wilayah
domestik maupun publik. Peran dan kedudukan perempuan pada wilayah domestik
tidak ada kontraversi karena agama Islam menganggap laki-laki dan perempuan memiliki
kedudukan yang sama dihadapan Allah,
Persamaan itu antara lain dari segi makhluk Tuhan dimuka bumi yang
bebas, merdeka, mendapat reward dari Allah dan akan mempertanggungjawabkan
perbuatanya di mahkamah pengadilan Tuhan.
Perbedaan manusia hanya pada kualitas ketakwaannya kepada Allah. Pernyataan
ini antara lain bisa dilihat pada firman Allah yaitu pada QS. Al Hujrat: 13,
Qs. At Taubah : 71 dan Qs. An Nisa : 124.
Sabtu, 16 Februari 2013
Al qur'an dan Pendidikan anak
AL-QUR’AN
DAN PENDIDIKAN ANAK
( Analisis Nilai-Nilai
Pendidikan Anak
Dalam al-Qur’an
Surat Al-Luqman
Ayat 13-19)
(Oleh : Kasan As'ari, M.Pd.I)
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Al-qur’an sebagai kitab suci umat islam berfungsi sebagi
petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, petunjuk disini bermakna umum, artinya
al-Qur’an selain menjadi petunjuk ke jalan yang benar dan diridloi oleh Allah
dan akan mengantarkan kebahagiaan di akherat juga bermakna sebagai petunjuk
dalam menapaki kehidupan di dunia.[1]karena
pada hakekatnya islam selalu mengajarkan umatnya untuk selalu menggapai
kebahagiaan hidup didunia dan akherat.
Sebagai kitab dan undang-undang yang diturunkan oleh Allah
kepada nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia, al-Qur’an telah memberi gambaran yang lengkap (Maa
farothna fil khitabi minsyai) kepada pribadi dan kelompok manusia.
Rasulullah SAW hanya bertindak sebagai penerima al-Qur’an, bertugas
menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, mensucikan dan mengajarkan kepada manusia
(QS 67:2).[2]
Mensucikan dapat diidentikan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain
kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam
metafisika dan fisika.[3]
Tujuan yang ingin dicapai dari pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut
adalah pengabdian kepada Allah sejalan dengan tujuan penciptaan manusia yang
ditegaskan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an surat Al-Dzariat ayat 56.[4]
Arab pra islam
ARAB PRA - ISLAM
(Tinjauan dari Aspek Sosiografis, Budaya dan Agama)
Oleh : Kasan As’ari, M.Pd.I
A. Pendahuluan
Mengkaji tentang Islam
akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih dahulu, karena Islam
lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang sudah mempunyai adat istiadat yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Apalagi
ia muncul di kota terpenting bagi mereka yang menjadi jalur penting bagi lalu
lintas perdagangan mereka kala itu[1].
Secara umum, Arab pra-Islam
disebut sebagai periode Jahiliyyah yang berarti kebodohan dan barbarian[2].
Secara nyata, dinyatakan oleh Philip K. Hitti yang dikutip Sulhani Hermawan, bahwa
masyarakat Makkah pra-Islam adalah masyarakat yang tidak memiliki takdir
keistimewaan tertentu (no dispensation), tidak memiliki nabi tertentu
yang terutus dan memimpin (no inspired prophet) serta tidak memiliki
kitab suci khusus yang terwahyukan (no revealed book) dan menjadi
pedoman hidup.[3]
metode pembelajaran Qur'an hadits
LANGKAH-LANGKAH
DAN METODE PEMBELAJARAN ALQUR’AN HADITS
(Menulis atau Menyalin Al-Qur’an dan
Hadits)
Oleh : Kasan As’ari, M.Pd.I
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan
ke dunia yang harus diyakini oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab
Allah adalah salah satu rukun iman yang ke tiga. Beriman kepada Al-Qur’an harus
dibuktikan dengan mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Mempelajari Al-Qur’an adalah kunci sukses hidup dunia dan akhirat. Dengan
mempelajari Al-Qur’an maka seseorang akan mempunyai banyak pengetahuan yang
bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Mempelajari Al-Qur’an berarti belajar
membunyikan huruf-hurufnya dan menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah
tingkatan yang paling awal dan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an
pada tingkatan selanjutnya. Pada tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa
mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir Al-Qur’an. Namun untuk menuju kepada
tingkatan ini seseorang harus menempuh tingkatan awal yaitu membaca dan menulis
Al-Qur’an.
Langganan:
Postingan (Atom)